Arsip | Math Badai RSS feed for this section

Siapa yang paling Badai???

29 Jun

1. Angka 0 (nol) menduduki posisi pertama. Tidak ada angka yang mengalami perjuangan begitu lama sebelum diakui keberadaannya selain angka noll. (Lebih rinci baca pada rubrik ASAL).
2. Bilangan ¶ . Ada jadinya jika tidak ada bilangan ini. Sulit menghitung luas, dengan akurasi tinggi, untuk bentuk-bentuk yang mengandung lengkungan terutama lingkaran. (Lebih rinci baca pada rubrik ASAL).
3. Bilangan e, besarnya 2,7182…, adalah dasar (base) logaritma natural; limit (1+1/n)n terus meningkat sampai tak-terhingga. E mempunyai kaitan erat dengan bilangan lain seperti dengan ¶ , 1 dan i (yang akan dijelaskan berikut. (Lebih rinci baca pada rubrik ASAL).
4. Bilangan imajiner, i. Guna menemukan nilai x dari persamaan x² + 1 = 0, tidaklah mungkin menemukan x sebagai bilangan riil, namun muncul sebagai bilangan imajiner yang dilambangkan dengan i dengan besar √-1.
5. √2. Hasil akar dua adalah 1,414214…. Ketika hasil ini pertama kami ditandai dengan pecahnya persaudaraan para pengikut Pythagoras, karena mementahkan dalil.
6. Angka 1, karena semua bilangan apabila dikalikan satu hasilnya adalah bilangan itu sendiri.
7. Angka 2 adalah satu-satunya bilangan genap yang termasuk bilangan prima. Kehebatan lain adalah 2 + 2 = 2 x 2, disamping sering dipakai sebagai lambang (bentuk lebih kecil) sebagai lambang kuadrat.
8. Gamma dari Euler Konstanta Euler, ĵ = 0,577212… = lim n->∞ (1+ ½ + 1/3 + ¼+ …+ 1/n – ln(n))– 1/9 + 1/25 – 1/49 + …

9. Konstanta Chaitin disebutkan banyak kemungkinan bahwa algoritma yang dipilih secara random akan membuat suatu komputer hang.

10.Bilangan И0 (Aleph naugh) adalah bilangan transfinite. Matematikawan memberi notasi И0 untuk bilangan rasional tak-terhingga (infinite). Ada hubungan antara bilangan ini dengan bilangan irrasional tak-terhingga (infinite) yang diberi notasi C dalam bentuk C = 2И0. Hipotesis kontinuum dinyatakan sebagai C = И1

besantan kali bro

besantan kali bro

Apakah matematika ilmu yang ‘sulit’?

28 Jun

Secara umum, semakin kompleks suatu fenomena, semakin kompleks pula alat (dalam hal ini jenis matematika) yang melalui berbagai perumusan (model matematikanya) diharapkan mampu untuk mendapatkan atau sekedar mendekati solusi eksak seakurat-akuratnya.

Jadi tingkat kesulitan suatu jenis atau cabang matematika bukan disebabkan oleh jenis atau cabang matematika itu sendiri, tetapi disebabkan oleh sulit dan kompleksnya fenomena yang solusinya diusahakan dicari atau didekati oleh perumusan (model matematikanya) dengan menggunakan jenis atau cabang matematika tersebut.

Sebaliknya berbagai fenomena fisik yg mudah di amati, misalnya jumlah penduduk di seluruh Indonesia, tak memerlukan jenis atau cabang matematika yang canggih. Kemampuan aritmetika sudah cukup untuk mencari solusi (jumlah penduduk) dengan keakuratan yang cukup tinggi.

badai kali

badai kali